Rumah Masih Berantakan, tapi Hati Sudah Ingin Rebahan

Posted on

TERAS MAMI – Pernah nggak, melihat ruang tamu berantakan, pakaian menumpuk, piring kotor belum dicuci, tetapi badan rasanya ingin sekali rebahan? Mau mulai beres-beres, tetapi baru membayangkannya saja sudah terasa lelah.

Selamat datang di kehidupan sehari-hari seorang ibu. Ada kalanya rumah seperti tidak pernah selesai dibereskan. Baru saja menyapu lantai, sebentar kemudian remah-remah makanan kembali bertebaran. Baru selesai mencuci pakaian, keranjang cucian sudah terisi lagi.

Rasanya seperti sedang mengikuti perlombaan yang garis finisnya tidak pernah terlihat.

Bagi sebagian ibu, rumah yang berantakan bukan sekadar soal barang-barang yang tidak berada di tempatnya. Ada juga perasaan bersalah yang diam-diam muncul.

Melihat lantai kotor membuat hati gelisah. Melihat tumpukan baju membuat pikiran sibuk menyusun daftar pekerjaan. Belum lagi urusan memasak, mengurus anak, menyiapkan kebutuhan keluarga, dan pekerjaan lain yang datang silih berganti.

Bahkan ketika sedang duduk, pikiran tetap bekerja.

“Nanti harus menyapu.”

“Baju itu belum dilipat.”

“Dapur masih berantakan.”

Tubuh memang sedang beristirahat, tetapi pikiran seperti tidak pernah mendapatkan cuti.

Kadang-kadang, yang dibutuhkan seorang ibu bukanlah motivasi untuk kembali membersihkan rumah. Yang dibutuhkan justru waktu untuk berhenti sejenak.

Rebahan sebentar, minum teh hangat, menikmati suasana tenang, atau sekadar menatap langit-langit tanpa memikirkan pekerjaan rumah.

Sebab, menjadi ibu bukan berarti harus selalu sibuk. Rumah boleh belum rapi, tetapi kesehatan fisik dan perasaan ibu juga perlu diperhatikan.

Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan hari ini. Jika badan sudah lelah, beristirahat bukanlah sebuah kesalahan.

Ibu juga manusia, bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa henti.

Rumah yang nyaman tidak selalu berarti rumah yang selalu bersih dan rapi. Rumah juga menjadi tempat orang-orang di dalamnya tumbuh, beraktivitas, bermain, dan menjalani kehidupan.

Kalau hari ini tenaga hanya cukup untuk mencuci piring, lakukan itu terlebih dahulu. Kalau masih sanggup merapikan ruang tamu, syukuri. Jika ternyata tubuh benar-benar membutuhkan istirahat, tidak apa-apa menunda pekerjaan yang tidak mendesak.

Bila memungkinkan, ajak pasangan dan anak-anak berbagi tanggung jawab sesuai kemampuan masing-masing. Rumah adalah tempat tinggal bersama, jadi merawatnya pun tidak harus menjadi beban satu orang saja.

Pelan-pelan saja. Tidak perlu membandingkan rumah sendiri dengan rumah orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan rumah mereka setelah kamera dimatikan.

Ada hari ketika seorang ibu begitu bersemangat membersihkan seluruh sudut rumah. Namun, ada pula hari ketika bangun dari tempat tidur saja rasanya membutuhkan perjuangan.

Keduanya adalah bagian dari kehidupan yang wajar.

Jadi, kalau hari ini rumah berantakan dan hati ingin rebahan, tarik napas sebentar. Minum air putih, lepaskan rasa bersalah, lalu istirahatlah jika memang membutuhkan.

Rumah tidak akan selamanya berantakan. Piring bisa dicuci, pakaian bisa dilipat, dan lantai bisa disapu nanti.

Namun, jangan sampai karena terlalu sibuk mengurus rumah, kita lupa mengurus diri sendiri.

Sebab, rumah memang membutuhkan perhatian, tetapi ibu yang tinggal di dalamnya juga membutuhkan kebahagiaan.

Pertanyaan untuk para Mami: Kalau rumah sedang berantakan tetapi badan sudah lelah, pilih mana: langsung beres-beres atau rebahan dulu sambil mengumpulkan tenaga? 😄

solusi network

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *