Pernahkah Mami merasa ingin menyerah sejenak, tetapi tiba-tiba ada pelukan kecil yang membuat hati terasa lebih tenang?
Sore itu, Wulan merasa sangat lelah. Sejak pagi, ia sibuk memasak, mencuci pakaian, membereskan rumah, dan menemani anaknya bermain. Rasanya belum satu pekerjaan selesai, pekerjaan lainnya sudah menunggu.
Wulan duduk di sofa sambil memejamkan mata. Ia hanya ingin beristirahat lima menit tanpa mendengar suara apa pun.
Tiba-tiba, si kecil datang menghampiri sambil membawa boneka kesayangannya.
“Mami, peluk!”
Wulan membuka mata, lalu merentangkan kedua tangannya. Anak itu langsung memeluknya erat dan menyandarkan kepala di dadanya.
“Mami capek?” tanya si kecil dengan polos.
Wulan tersenyum tipis. “Sedikit, Sayang.”
“Kalau capek, peluk aku saja.”
Mendengar kalimat itu, Wulan tertawa kecil. Entah mengapa, rasa lelah yang sejak tadi memenuhi pikirannya terasa sedikit berkurang.
Ia sadar, anaknya mungkin belum mengerti betapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan ibunya. Namun, dengan caranya yang sederhana, si kecil telah memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: kehangatan dan kasih sayang.
Rumah masih berantakan. Piring kotor masih menunggu di dapur. Akan tetapi, untuk beberapa menit, Wulan memilih menikmati pelukan itu tanpa memikirkan apa pun.
Sore itu, ia belajar bahwa menjadi ibu bukan berarti harus selalu kuat. Ada kalanya seorang ibu juga membutuhkan pelukan, perhatian, dan waktu untuk dirinya sendiri.
Dan terkadang, pelukan kecil dari anak yang kita besarkan justru menjadi pengingat bahwa di tengah semua kelelahan, ada cinta yang tumbuh setiap hari.
Tidak apa-apa jika hari ini Mami merasa lelah. Tidak apa-apa jika ada pekerjaan rumah yang belum selesai.
Mami juga manusia yang berhak beristirahat, menarik napas panjang, dan menerima kasih sayang.
Sebab, anak mungkin tidak akan mengingat apakah rumah selalu rapi, tetapi kehangatan dan kasih sayang yang mereka rasakan bersama Mami akan menjadi bagian berharga dari masa kecilnya.






