TERAS MAMI – Sudah capek memasak, makanan sudah disajikan dengan rapi, tetapi si kecil justru menggelengkan kepala. Disuapi sedikit, mulutnya tertutup rapat. Baru beberapa suap, ia sudah ingin turun dari kursi. Rasanya ingin menyerah, tetapi hati tetap khawatir: jangan-jangan anak kekurangan nutrisi.
Pernah mengalami hal seperti ini, Mami?
Anak susah makan memang bisa menjadi salah satu tantangan terbesar bagi orang tua. Apalagi ketika berbagai cara sudah dicoba, mulai dari mengganti menu hingga membuat makanan dengan bentuk yang lucu, tetapi hasilnya masih sama.
Namun, Mami tidak perlu langsung panik. Anak yang menolak makanan bisa mengalami fase pilih-pilih makanan, merasa belum lapar, atau masih beradaptasi dengan rasa dan tekstur baru. Yang penting, orang tua perlu memahami kebiasaan makan anak dan memperhatikan pertumbuhannya.
Lalu, bagaimana cara menghadapi anak susah makan tanpa membuat waktu makan menjadi ajang pertengkaran?
Ketika anak menolak makanan, reaksi spontan orang tua terkadang adalah membujuk berkali-kali, mengancam, atau memaksanya menghabiskan isi piring.
Padahal, memaksa anak makan justru bisa membuat suasana makan semakin tidak menyenangkan.
Cobalah tetap tenang ketika anak menolak makanan. Tawarkan makanan dengan lembut dan perhatikan tanda-tanda ketika ia lapar atau sudah kenyang.
Mami boleh menyediakan makanan bergizi, tetapi anak juga perlu diberi kesempatan untuk belajar mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri.
Melihat sepiring makanan yang penuh terkadang membuat anak kehilangan minat sebelum mulai makan.
Cobalah menyajikan makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu. Jika anak masih lapar, Mami bisa menambahkan porsinya.
Tidak perlu kecewa ketika makanan tidak habis. Perhatikan juga kebiasaan makan anak secara keseluruhan, bukan hanya jumlah makanan yang dihabiskan dalam satu waktu makan.
Anak yang terlalu sering mengonsumsi camilan atau minuman manis bisa kehilangan selera ketika waktu makan utama tiba.
Mami dapat membuat jadwal makan utama dan camilan yang teratur agar anak memiliki pola makan yang lebih terarah.
Hindari membiarkan anak terus-menerus mengonsumsi makanan sepanjang hari. Di antara waktu makan, berikan jeda yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Rutinitas yang konsisten dapat membantu anak mengenali kapan waktunya makan dan kapan waktunya bermain.
Ada anak yang langsung menyukai makanan baru, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerimanya.
Ketika anak menolak sayur, ikan, atau buah tertentu, bukan berarti Mami tidak bisa mengenalkannya kembali.
Cobalah menawarkan makanan tersebut pada kesempatan lain dengan cara penyajian yang berbeda. Misalnya, sayur bisa disajikan dalam sup, telur dadar, atau menu keluarga yang sesuai dengan usia anak.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak mungkin membutuhkan paparan berulang terhadap makanan baru, bahkan sekitar 8–10 kali, sebelum bersedia mencobanya.
Jadi, jangan langsung menyerah hanya karena si kecil menolak pada percobaan pertama.
Anak sering belajar dengan meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya.
Jika Mami dan anggota keluarga menikmati makanan yang sehat, si kecil bisa terdorong untuk ikut mencoba. Jadikan waktu makan sebagai kesempatan untuk berkumpul dan berbincang, bukan hanya mengejar target agar makanan cepat habis.
Usahakan suasana tetap nyaman dan kurangi gangguan televisi atau ponsel. Untuk anak yang sudah siap makan sendiri, biarkan ia berlatih menggunakan sendok atau mengambil makanan sesuai kemampuannya, dengan pengawasan agar tetap aman.
Makanan mungkin berceceran ke lantai atau baju menjadi kotor. Tidak apa-apa, Mami. Anak sedang belajar.
Ketika anak susah makan, orang tua terkadang merasa harus memasak beberapa menu sekaligus agar ada satu makanan yang mau dimakan.
Sesekali menyesuaikan menu tentu boleh, tetapi Mami tidak harus selalu membuat hidangan berbeda setiap kali anak menolak makanan.
Cobalah menyajikan makanan keluarga yang sesuai untuk anak, dengan tetap menyediakan setidaknya satu pilihan yang sudah dikenalnya.
Variasikan bahan makanan dan cara pengolahannya agar anak berkesempatan mengenal beragam rasa, tekstur, serta sumber zat gizi.
Yang terpenting bukan membuat makanan selalu terlihat sempurna, melainkan membangun kebiasaan makan yang beragam dan sesuai kebutuhan anak.
Meskipun pilih-pilih makanan bisa menjadi bagian dari perkembangan anak, Mami tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatannya.
Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau dokter anak jika anak terus-menerus menolak makanan, berat badan tidak bertambah sesuai harapan atau menurun, tampak lemas, sering muntah, kesulitan menelan, atau mengalami masalah saat makan yang mengganggu aktivitasnya.
Jika anak sulit minum, jarang buang air kecil, atau menunjukkan tanda dehidrasi, segera cari pertolongan medis.
Jangan terburu-buru memberikan suplemen penambah nafsu makan tanpa mengetahui penyebab masalahnya. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menilai kebutuhan nutrisi, pertumbuhan, serta kemungkinan masalah yang mendasari.
Mami juga bisa berkonsultasi dengan dokter anak apabila pilihan makanan si kecil sangat terbatas atau kesulitan makan berlangsung terus-menerus. Informasi mengenai kebiasaan pilih-pilih makanan juga dapat dibaca melalui artikel Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Mami Tidak Harus Menghadapi Semuanya dengan Sempurna
Menghadapi anak susah makan memang membutuhkan kesabaran. Ada hari ketika si kecil makan dengan lahap, tetapi ada pula hari ketika makanan kesukaannya saja tidak disentuh.
Mami boleh merasa lelah dan khawatir. Namun, cobalah untuk tidak menjadikan setiap waktu makan sebagai pertarungan yang menguras tenaga.
Mulailah dari langkah sederhana: buat jadwal makan yang teratur, sajikan porsi sesuai kebutuhan, kenalkan makanan secara berulang, dan ciptakan suasana makan yang menyenangkan.
Ingat, tujuan Mami bukan sekadar membuat anak menghabiskan makanan, tetapi membantu si kecil membangun kebiasaan makan yang sehat sambil tumbuh dengan baik.
Semangat terus, Mami! Pelan-pelan, kenali kebutuhan si kecil dan jangan ragu meminta bantuan ketika diperlukan.
Salam hangat dari Teras Mami, tempat berbagi cerita, pengalaman, dan tips sederhana seputar kehidupan keluarga.







